Jangan Coba-Coba Konsumsi Ganja Jika Tidak Ingin Impotensi!

Ganja merupakan salah satu jenis narkoba yang dilarang penggunaannya di Indonesia. Walaupun ganja mempunyai beberapa manfaat dalam bidang kesehatan, namun ganja juga memiliki banyak efek negatif terhadap kesehatan. Salah satunya adalah menyebabkan impotensi pada pria.

Meskipun dampak bahaya ganja tidak seberat narkoba jenis lain, namun efek ganja pada tubuh dapat berkembang secara perlahan dan bertahan dalam waktu yang lama. Konsumsi ganja dalam jangka panjang dapat memberikan pengaruh buruk terhadap vitalitas pria. Pecandu sering menganggap bahwa ganja yang digunakannya dapat meningkatkan gairah seksual. Tetapi faktanya ganja justru dapat membuat pria mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.

Ganja merupakan jenis tanaman Cannabis sativa. Tanaman ganja hanya tumbuh di wilayah pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl. Tinggi tanaman ini bisa mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman yang berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil membentuk sebuah gerombolan di ujung ranting.

Tanaman ini sebenarnya merupakan tanaman budidaya yang menghasilkan serat. Namun, tanaman ini digolongkan ke dalam psikotropika karena mempunyai kandungan zat tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol). Zat THC dalam ganja ini mampu memberikan efek euforia kepada pemakainya, yaitu munculnya rasa senang berkepanjangan tanpa sebab.

Penggunaan ganja sangat bermacam-macam. Tanaman ganja yang sudah dikeringkan dapat dikonsumsi dengan cara dilinting menjadi rokok, dihisap menggunakan bong, atau dengan menggunakan vaporizer. Kadang kala ganja juga dicampurkan ke dalam makanan seperti kue dan permen, atau bahkan diseduh seperti teh.

Di beberapa negara di dunia, penggunaan ganja dilegalkan untuk keperluan medis. Ganja dimanfaatkan sebagai pereda rasa nyeri, anti kejang, bahkan mengatasi kanker payudara. Namun dibalik dampak positif yang ditimbulkan ganja, banyak pula dampak negatif yang diakibatkannya. Efek negatif secara umum dari penggunaan ganja adalah pengguna akan menjadi malas, otak akan lamban dalam berpikir, hingga hilangnya konsentrasi pengguna untuk berpikir.

Efek jangka panjang penggunaan ganja dapat mempengaruhi tingkat kesuburan baik pria maupun wanita. Pada pria dapat menyebabkan turunnya kadar hormon testosteron yang juga mempunyai efek pada turunnya jumlah sperma. Risiko mengalami disfungsi ereksi hingga kanker testis juga menjadi lebih tinggi. Sedangkan pada wanita, penggunaan ganja bisa menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Journal of Psychoactive Drugs tahun 1982, sebanyak 75% dari pengguna aktif ganja menyatakan bahwa secara jangka pendek ganja dapat meningkatkan gairah seksual. Namun melalui penelitian yang sama pula ditemukan bahwa pria pengguna ganja dua kali lipat lebih rentan mengalami disfungsi ereksi atau impotensi. Efek ini lebih berbahaya daripada efek jangka pendeknya.

 

Beberapa masalah kesehatan seksual yang dapat diakibatkan oleh penggunaan ganja adalah:

  1. Disfungsi ereksi

Zat aktif tetrahydracannabinol (THC) yang terkandung di dalam ganja dapat meningkatkan detak jantung hingga 20 persen. Efek ini bahkan dapat dirasakan langsung pada hisapan pertama dan dapat bertahan hingga mencapai tiga jam. Hal ini dapat mengakibatkan detak jantung tidak stabil dan menyebabkan tekanan darah meningkat.

Otot jantung yang dipaksa terus-terusan untuk bekerja keras mengalirkan darah dapat menyebabkan arteri menjadi sempit sehingga aliran darah menuju tubuh terutama penis menjadi berkurang. Efek ganja juga dapat menghambat kerja reseptor saraf di otak untuk menyampaikan sinyal ke jaringan penis untuk menciptakan ereksi. Hal inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya impotensi.

  1. Sulit ejakulasi

Pengguaan ganja dapat menyebabkan kerusakan syaraf, gangguan hormon, serta gangguan psikologis. Inilah yang menjadi faktor penyebab pria tidak bisa ejakulasi. Sebuah penelitian The Journal of Sexual Medicine menemukan bahwa pemakaian ganja dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan turunnya kadar hormon testosteron pada pria. Turunnya kadar testosteron membuat pria susah mengalami ejakulasi. Selain itu ganja juga menyebabkan otak menghasilkan dopamin dalam jumlah yang berlebihan sehingga memberikan efek kecanduan.

  1. Payudara membesar

Akibat ketidakseimbangan hormon, seorang pria dapat mengalami ginekomastia, yaitu ukuran payudara yang membesar. Meskipun kejadian ini sangat langka, namun kondisi ini dapat mempengaruhi vitalitas seorang pria.

  1. Terjadi demotivasi seksual

Kandungan zat penenang dalam ganja dapat membuat pemakainya menjadi santai. Pemakaian jangka panjang akan membuat pengguna menjadi kekurangan minat atau dorongan untuk berhubungan seks.

  1. Memicu perilaku menyimpang seksual

Penggunaan ganja cenderung menyebabkan peningkatan perilaku-perilaku yang sangat berisiko. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya beberapa perilaku menyimpang seksual pada pemakainya. Lebih jauh lagi juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit seksual.

 

Mengingat lebih banyak dampak negatif daripada dampak positif yang ditimbulkan dari penggunaan ganja, alangkah baiknya jika menghindari penggunaan barang haram tersebut. Jangan sekali-kali tertarik untuk mencobanya jika tidak ingin mengalami impotensi.