Jangan Buru-Buru Percaya, Mitos Seks Ini Belum Tentu Benar

Mitos Seks Ini Belum Tentu Benar – Banyak sekali mitos tentang seks yang beredar di masyarakat. Meskipun belum tentu kebenarannya, namun tak jarang masyarakat menelan mentah-mentah dan mudah percaya dengan berita yang mereka terima.

Nah agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran berita, berikut beberapa mitos seks yang harus Anda tahu kebenarannya.

 

Penis berukuran besar membuat seks lebih memuaskan

Mitos seks yang satu ini memang paling banyak dipercaya oleh masyarakat.  Anggapan seperti ini justru menjadi beban pikiran bagi kaum pria. Akibatnya mereka menjadi tidak percaya diri dengan ukuran penis yang mereka miliki. Hali ini lah sebenarnya yang mengyebabkan hubungan seks kurang memuaskan.

Padahal berdasarkan sebuah studi, terbukti sebnayak lebih dari 85% wanita puas dengan ukuran penis pasangannya. Hal ini membuktikan bahwa kpuasan seksual tidak hanya bisa didapatkan oleh mereka yang berpenis besar saja.

Kualitas hubungan seks tidak hanya ditentukan oleh ukuran penis saja. Hubungan seks akan terasa berkualitas dan memuaskan jika masing-masing dari pasangan menikmati dan memaknai setiap sesi bercinta. Dengan begitu setiap orang akan lebih menghargai apa yang ia dan pasangan miliki.

 

Orgasme hanya bisa didapatkan dengan penetrasi

Memang, pada umumnya orgasme dikatakan berhasil ketika melalui penetrasi di vagina. Namun, menurut Departemen Kesehatan di Brown University bahwa ada banyak wanita yang sulit untuk mencapai orgasme yang maksimal melalui penetrasi.

Temuan ini diperkuat oleh Medical News Today yang mengatakan bahwa bukan berarti suatu pendapat bisa Anda telan mentah-mentah dan cocok pada semua orang, contohnya dalam hal mencapai orgasme.

Sebab sebuah penelitian menunjukkan presentase klimaks saat seks pada wanita, di mana 25 persen wanita mudah mencapai orgasme dengan penetrasi, sementara 75 persen sisanya lebih memilih untuk mendapatkan rangsangan pada klitorisnya.

Jadi jangan berpikir kalau Anda tidak bisa mencapai orgasme maksimal melalui penetrasi, atau berpikir Anda sulit untuk memuaskan pasangan karena tak kunjung mencapai klimaks.

Pasalnya, sebagian wanita mungkin akan lebih memilih diberikan rangsangan pada klitorisnya dibandingkan melakukan penetrasi pada vagina. Maka itu, ada baiknya jika Anda dan pasangan berdiskusi atau sekadar bertanya, bagian apa yang disukai saat bercinta atau bagaimana caranya untuk membuat masing-masing klimaks.

 

Wanita harus di beri rangsangan pada klitoris agar mencapai klimaks saat bercinta

Ada berbagai macam “aturan” seks pada masing-masing orang, baik pria maupun wanita. Banyak yang mengira jika wanita harus diberikan rangsangan pada klitoris dulu baru bisa mencapai klimaks.

Padahal, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Dilansir dari laman Women’s Health, ada banyak cara agar wanita bisa mencapai orgasme. Misalnya dengan merangsang puting payudara, telinga, leher, hingga klitoris.

Menurut Vreeman dan Caroll, orgasme yang muncul dengan melakukan sentuhan-sentuhan pada area tubuh lainnya ini kemudian disebut dengan nama “zona orgasme”.

 

Melakukan oral seks lebih aman dibandingkan seks pada vagina

Mungkin banyak pasangan akan memilih langkah seks yang satu ini guna menghindari terjadinya kehamilan. Padahal dengan melakukan oral seks, tetap tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan penyakit infeksi menular seksual (IMS), misalnya penyakit herpes, gonore, dan klamidia bisa menular meski dilakukan dengan seks oral.

Untuk itu, agar Anda dan pasangan lebih aman dan nyaman saat bercinta, sebaiknya gunakan kondom saat seks oral demi mencegah penularan penyakit kelamin.

 

Wanita yang sering melakukan hubungan seks, memiliki vagina yang lebih kendur

Faktanya, menurut Debby Herbenick, Ph.D seorang profesor di Indiana University sekaligus penulis buku The Coregasm Workout, bahwa vagina wanita bersifat fleksibel sehingga cenderung tidak akan terlalu berubah dalam ukuran maupun bentuknya meskipun telah berkali-kali melakukan hubungan seksual.

Mitos tentang seks ini diperkuat dengan studi yang membandingkan kelompok wanita yang sudah melahirkan dengan wanita yang belum melahirkan maupun berhubungan intim. Hasilnya menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam perubahan ukuran vagina.

 

Sumber : hellosehat.com